Minggu, 16 April 2017

PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU RUSYD



Pemikiran Filsafat Ibnu Rusyd
Makalah
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Islam
Dengan dosen pengampu Muliadi, M.Hum







Disusun Oleh :

Siti Aisyah                          1151060062
Miftahul Arifin                   1151060038
Sarah Azka Ramdhani        1151060059
Hasbialloh                           1151060072




FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN ILMU HADITS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di Andalusia, tepatnya di kota Cordova lahir seorang filosof Muslim terkenal bernama Ibnu Rusyd. Ketika itu Andalusia (Spanyol) merupakan salah satu pusat peradaban Islam yang maju dan cemerlang serta banyak menghasilkan ilmuan-ilmuan muslim besar seperti Ibnu Bajjah dan Ibnu Thufail. Di sisi lain, Eropa masih berada dalam zaman kegelapan, kebodohan dan terkungkung dalam hegemoni kekuasaan gereja (The dark middle ages), sehingga dapat dilihat dalam konteks sejarah bahwa dengan munculnya peradaban Islam di Andalusia, telah menjadi jembatan bagi Eropa untuk mengetahui dan mempelajari Ilmu pengetahuan khususnya filsafat. Dengan demikian dunia Islam telah memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan Eropa.
Sebagai seorang filosof, Ibnu Rusyd banyak memberikan kontribusinya dalam khasanah dunia filsafat, baik filsafat yang berasal dari Yunani maupun yang berasal dari filosof-filosof muslim sebelumnya. Ibnu Rusyd dalam filsafatnya sangat mengagumi filsafat Aristoteles dan banyak memberikan ulasan-ulasan atau komentar terhadap filsafat Aristoteles sehingga ia terkenal sebagai komentator Aristoteles.
Dalam makalah ini sekilas akan diuraikan beberapa pemikiran filsafat Ibnu Rusyd, biografi dan karyanya, tanggapan terhadap kritik al-Ghazali, di samping pengaruh pemikirannya dalam ilmu pengetahuan yang kemudian memunculkan gerakan Averroisme di Barat.
B.     Rumusan Masalah
Adapun sesuai dengan latar belakang, maka terdapat permasalahan sebagai berikut:
a.       Siapa Ibnu Rusyd?
b.      Bagaimana pemikiran Ibnu Rusyd tentang filsafat Islam?
c.       Mengapa Ibnu Rusyd mengkritik al-Ghazali?
C.    Tujuan
Adapun tujuan pemakalah di samping untuk mengajukan sebagai tugas mata kuliah dan untuk, antara lain:
a.       Mengetahui dan mengenal Ibnu Rusyd.
b.      Memahami dan Mengetahui pemikiran Ibnu Rusyd tentang filsafat Islam.
c.       Memahami dan Mengetahui sebab dikritiknya al-Ghazali oleh Ibnu Rusyd.

 BAB II
PEMBAHASAN
A.    Riwayat Hidup dan Karyanya
Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Rusyd lahir di Cordova, Andalusia tahun 510 H/1126 M. Ia lebih populer dikenal dengan Ibnu Rusyd. Orang barat menyebutnya dengan nama Averrois. Penyebutan tersebut disebabkan karena terjadinya metamorfose Yahudi-Spanyol-Latin. Ia berasal dari keluarga terhormat yang terkenal sebagai tokoh keIlmuwan. Kakek dan ayahnya mantan hakim di Andalusia dan ia sendiri diangkat menjadi hakim di Seville dan Cordova tahun 565 H/1169 M. Ia diangkat pula menjadi ketua Mahkamah Agung (Qadhi al-Qudhat) di Cordova.
Ibnu Rusyd tumbuh dan hidup dalam keluarga yang besar sekali semangatnya pada Ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan salah satu faktor yang ikut meluruskan jalannya menjadi seorang Ilmuwan. Faktor lain yang lebih dominan bagi keberhasilannya adalah ketajaman berpikir dan kecerdasan otaknya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika ia mewarisi intelektualitas keluarganya dan berhasil menjadi seorang Ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin Ilmu, seperti hukum, filsafat, astronomi, sastra Arab, dan lainnya.
Karirnya Ibnu Rusyd tidaklah mulus dan lancar. Ia sendiri tidak lepas dari pengalaman pahit yang menimpa para pemikir kreatif dan inovatif terdahulu. Memang saat permulaan pemerintah Khalifah Ya’qub Ibnu Yusuf yang menggantikan ayahnya, Yusuf Abu Muhammad ‘Abd al-Mukmin, Ibnu Rusyd tetap menerima kehormatan dan priviliasi yang diberikan kepadanya. Akan tetapi, pada 1195 M ia dituduh kafir, diadili, dan dihukum buang ke Lucena serta dicopot dalam segala jabatannya. Lebih dari itu, semua bukunya dibakar kecuali yang bersifat Ilmu pengetahuan murni (sains), seperti kedokteran, matematika, dan astronomi.
Untunglah masa getir yang dialami Ibnu Rusyd ini tidak berlangsung lama (satu tahun). Tahun 1197 M, khalifah mencabut hukumannya dan posisinya direhabilitasi kembali. Namun, Ibnu Rusyd tidak lama menikmati keadaan tersebut. Lalu ia wafat tahun 1198 M (10 Desember 1198/9 Shafar 595 H) di Marakesh pada usia 72 tahun menurut perhitungan Masehi dan 75 tahun menurut perhitungan Hijriah.
Karyanya terdiri dari 28 buku mengenai filsafat, 5 buku mengenai agama, 8 buku mengenai hukum Islam dn 10 buku mengenai kedokteran. Dalam filsafat cara berpikir Ibnu Sina disempurnakan oleh Ibnu Rusyd, sehingga pengaruhnya dalam filsafat Eropa lebih besar dari pengaruh Ibnu Sina sendiri.
Di dunia Islam sendiri Ibnu Rusyd lebih terkenal sebagai seorang filsuf yang menentang Al-Ghazali. Bukunya yang khusus menentang filsafat Al-Ghazali, Tahafutul-tahafut, adalah reaksi atas buku Al-Ghazali, Tahafut Fatasifah. Dalam bukunya itu Ibnu Rusyd membela kembali pendapat-pendapat ahli filsafat Yunani dan Islam yang telah diserang habis-habisan oleh Al-Ghazali. Segala dalil Al-Ghazali di sana dibantahnya. Sebagai pembeli Aristoteles, tentu saja Ibnu Rusyd menolak prinsip ijraut-adat dari Al-Ghazali. Dan seperti Al-Farabi dia juga mengemukakan prinsip kausal dari Aristoteles.
Di dunia Islam filsafat Ibnu Rusyd tidak berpengaruh besar. Oleh sebab itu namanya tidak seharu nama Al-Ghazali. Malah, karena isi filsafatnya yang dianggap sangat bertentangan dengan pelajaran agama Islam yang umum, Ibnu Rusyd dianggap orang Zindik. Karena pendapatnya itu juga dia peranah dibuang oleh Khalifah Abu Yusuf (pengganti Abu Ya’kub), diasingkan ke Lucena (Alisana).
Ibnu Rusyd banyak mengarang buku, tetapi yang asli berbahasa Arab sampai ke tangan kita sekarang hanya sedikit. Sebagian adanya adalah buku-buku yang telah diterjemahkan ke dalam Latin dan Yahudi. Diantara karangan-karangannya dalam soal filsafat ialah:
a.   Tahafutul-Tahafut.
b.   Risalah fi Ta’alluqi ‘Ilmillahi ‘an ‘Adami Ta’alluqihi bil-Juziat.
c.   Tafsiru ma ba’dath-Thabiat.
d.   Fashlul-Maqal fi ma Bainal-himaah wasy-Syirah Minal-Ittishal.
e.   Al-Kasyfu ‘an Manahijil ‘Adilag fi ‘aqaidi Ahli Millah.
f.    Naqdu Nadhrariyat Ibnu Sina ‘Anil-Mukmin Lidzatihi wal-Mukmin Ligharihi.
g.   Risalah fil-Wujudil-Azali wal-Wujudil-Muaqqat.
h.   Risalah fil-Aqli wal-Ma’qulli.
Karangannya meliputi berbagai-bagai Ilmu, seperti : fiqh, usul, bahasa, kedokteran, astronomi, politik, akhlak dan filsafat. Tidak kurang dari 10.000 lembar yang telah ditulisnya. Buku-bukunya adakalanya merupakan karangan sendiri, atau ulasan, atau keringkasan. Karena sangat tinggi penghargaannya terhadap Aristoteles, maka tidak mengherankan kalau ia memberikan perhatiannya yang besar untuk mengulaskan dan meringkaskan filsafat Aristoteles. Buku-buku lain ysng telah diulasnya ialah buku-buku karangan Platon, Iskandar Aphrodisias, Platinus, Galinus, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali dan Ibnu Bajjah. Buku-bukunya yang lebih penting dan yang sampai kepada kita ada empat yaitu:
1.      Fashal al-Maqal fi bain al-Hikmat wal al-Syari’ah min al-Ittishal.
2.      Al-Kasyf’an Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat.
3.      Tahafut al-Tahafut.
4.      Bidayat al-Mujtahid wa Nidayah al-Muqtashid.

B.     Peranan Akal dalam Filsafatnya
Ibnu Rusyd merupakan seorang filsuf Islam yang mementingkan akal daripada perasaan. Menurutnya semua persoalan agama harus dipecahkan dengan kekuatan akal.  Dalam kitabnya, Fashul Maqal..., Ibnu Rusyd menandaskan bahwa logika harus dipakai sebagai dasar segala penilaian tentang kebenaran. Dalam mempelajari agama, orang harus belajar memikirkannya asecara logika tapi yang berhungan dengan agama.
Tujuan agama menurut Ibnu Rusyd bahwa pokok tujuan syariat Islam yang sebenarnya ialah perbuatan yang benar dan amal perbuatan yang benar. Mengetahui pengetahuan, menurut Ibnu Rusyd maksudnya untuk mengetahui dan mengerti adanya Allah Ta’ala serta segala alam maujudat ini pada hakikatnya yang sebenarnya apa maksud syariat itu, dan mengerti apa pula sebenarnya yang dikehendaki dengan pengertian kebahagiaan akhirat (surga) dan kecelakaan di akhirat (neraka).
Maksud dari amal yang benar ialah mengerjakan dan menjauhkan pekerjaan-pekerjaan yang akan mengakibatkan penderitaan. Mengetahui tentang amal perbuatan seperti inlah yang dinamakannya Ilmu yang praktis.


C.    Jawaban terhadap Sanggahan Al-Ghazali
1.      Alam Kadim
Menurut al-Ghazali alam diciptakan Allah dari tiada menjadi ada. Penciptaan dari tiadaalah yang memastikan adanya Pencipta. Yang ada tidak butuh yang mengadakan. justru itulah alam ini mesti diciptakan dari tiada menjadi ada. Sementara itu, menurut filosof Muslim, alam kadim ini, dengan arti alam ini diciptakan adri sesuatu (materi) yang sudah ada.
Menurut Ibnu Rusyd, al-Ghazali keliru menarik kesimpulan bahwa tidak ada seorang filosof muslim pun yang berpendapat bahwa kadimnya sama dengan kadimnya Allah, tetapi yang mereka maksudkan adalah yang ada berubah menjadi ada dalam bentuk lain. Karena penciptaan dari tiada, menurut filosof Muslim adalah suatu yang mustahil dan tidak mungkin terjadi. Dari tidak ada (nihil yang kosong) tidak bisa terjadi sesuatu. Oleh karena itulah, material asal itu mesti kadim.
2.      Allah Tidak Mengetahui Perincian yang Terjadi di Alam
Menurut al-Ghazali para filosof Muslim berpendapat bahwa Allah tidak mengetahui yang parsial di alam. Dalam menjawab tuduhan ini, Ibnu Rusyd menegaskan bahwa al-Ghazali salah paham sebab tidak ada filosof Muslim yang mengatakan demikian. Yang dimaksud para filosaf Muslim adalah Allah mengetahui tentang yang parsial di alam ini tidak sama dengan pengetahuan manusia.  Pengetahuan Allah bersifat kadim yakni sejak azali. Allah mengetahui segala yang terjadi di alam ini, sedangkan pengetahuan manusia bersifat baharu. Begitu pula pengetahuan Allah berbentuk sebab, sedangkan pengetahuan manusia berbentuk akibat. Demikian pula menurut Ibnu Rusyd, Pengetahuan Allah tidak dapat dikatan Juz’i (parsial) dan Kulli (Umum).
Dari situ jelaslah perbedaan antara al-Ghazali dan para filosof Muslim tentang Ilmu Allah. Al-Ghazali terkesan menyamakan Ilmu Allah dengan imu manusia, sedangkan filosaf Muslim terkesan membedakan antara Ilmu Allah dengan Ilmu manusia. Namun, pada dasarnya mereka sependapat bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang terjadi di alam ini.


3.      Kebangkitan Jasmani di Akhirat
Menurut Ibnu Rusyd sanggahan al-Ghazali terhadap para filosof Muslim, tentang kebangkitan jasmani di akhirat tidak ada, adalah tidak benar. Mereka tidak mengatakan demikian. Semua agama mengakui adanya hidup kedua di akhirat, tetapi mereka berbeda interpretasi mengenai bentuknya. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa yang akan dibangkitkan hanya rohani dan ada pula yang mengatakan rohani dan jasmani. Namun yang jelas, kehidupan di akhirat tidak sama dengan kehidupan dunia.
Menurut Ibnu Rusyd, sikap al-Ghazali sendiri tidak konsisten, saling bertentangan dengan ucapanya. Al-Ghazali mengatakan tidak ada seorang Muslim pun yang berpendapat bahwa kebangkitan jasmani tidak ada. Akan tetapi, dalam bukunya mengenai tasawuf, ia mengemukakan bahwa pendapat pendapat kaum sufi yang ada nanti hanya kebangkitan rohani.
Perbedaan pendapat antara al-Ghazali dan filosof Muslim hanya perbedaan tentang interpretasi tentang ajaran Islam, bukan perbedaan antara menerima dan menolak ajaran dasar tersebut.
D.    Hukum Sebab Akibat (Kausalitas) dan Hubungannya dengan Mukjizat
1.      Terdapat Hubungan yang Dharury (Pasti) antara Sebab dan Akibat
Ibnu Rusyd berpendapat bahwa sebab dan akibat atau kausalitas terdapat hubungan keniscayaan. Pengingkaran akan adanya sebab, yang melahirkan adanya musabab atau akibat, merupakan pernyataan yang tidak logis. Karena itu, menurut Ibnu Rusyd, para mutakalimin termasuk al-Ghazali sebenarnya mengtakan sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani mereka. Adapun pernyataan bahwa sebab itu berpengaruh secara efektif dengan sendirinya terhadap lahirnya sesuatu  akibat atau efektivitas, pengaruh tersebutdisebabkan hal lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, merupakan permasalah memerlukan kajian mendalam.
Selanjutnya, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa pada suatu benda atau segala sesuatu yang ada dialam ini memiliki sifat dan ciri tertentu, yang di sebut dengan Zatiyah. Dalam arti bahwa untuk terwujudnya sesuatu keadaan mesti ada daya atau kekuatan yang telah ada sebelumnya. Bagaimana sseorang, bisa mengingkari adanya sebab terhadap musabab, adalah segala yang mawjud ini tidak bisa dipahami, kecuali dengan mengenali sebab-sebab zatiyah. Tanpa sebab zatiyah ini tidak bisa dibedakan antara satu mawjud dengan mawjud  yang lain.
2.      Hubungan Sebab Akibat dengan Adat atau Kebiasaan
Telah disebutkan bahwa al-Ghazali memandang sebab-akibat sebagai adat atau kebiasaan. Ternyata Ibnu Rusyd mempertanyakan apa sebenarnya yang dimaksud al-Ghazali sebagai adat tersebut. Kalau yang dimaksud adat bagi Allah, hal ini mustahil karena apa yang disebut sebagai adat suatu kemampuan atau potensi yang diusahakan fa’il yang mengakibatkan berulang-ulangnya perhatian fa’il. Hal ini tentu bertentangan dengan firman Allah yang menyatakan bahwa sunnatullah itu tidak akan beganti dan tidak akan berubah (Q. S. Al-Isra’: 77). Jika yang dimaksud adalah adat bagi mawjud maka hal ini hanya berlaku bagi yang memiliki roh atau tabiat. Dan apabila yang dimaksud adalah adat bagi kita dalam menentukan sesuatu sifat atau predikat terhadap mawjud ini.
3.      Hubungan Sebab Akibat dengan Akal
Menurut Ibnu Rusyd berpendapat bahwa filsafat tidak hanya berdiri di atas akal sehat, tetapi juga atas ilmu pengetahuan. Emperisme itu bermanfaat untuk tujuan praktis, bukan untuk ilmu-ilmu pasti. Emperisme praktis didasarkan pada akal sehat. Pengetahuan ilmiah mempercayai hukum sebab akibat, yang dipandang sngat meyakinkan. Bersifat ilmiah berarti mampu meramalkan apa yang akan terjadi di kemudian hari, apabila suatu sebab telah diketahui. Mempercayai ilmu dan kekuatannya disebabkan oleh kemampuan kita untuk meramal atas dasar menguatkan keiman kita menyangkut alam semesta ini, dan menyatakan bahwa segala sesuatu di alam ini terjadi menurut keteraturan sempurna, yang dapat dipahami sebagai hukum sebab akibat. Karena itu, secara tegas Ibnu Rusyd menyatakan bahwa pengetahuan akal tidak lebih daripada pengetahuan tentang segala yang maujud beserta sebab akibat yang menyertainya. Keingkaran akan sebab berarti pengingkaran terhadap akal dan ilmu pengetahuan.
Pengakuan akan adanya ikatan yang kuat antara sebab dengan akal melahirkan pernyataan akan adanya hubungan yang pasti antara sebab dengan akibat, yang pada gilirannya akan melahirkan pula suatu pemgakuan bahwa segala yang mawjud di alam ini penuh dengan hikmah karena hikmah berarti mengetahui sebab-sebab berdasarkan pertimbangan akal. Pengingkaran akan adanya hubungan yang pasti antara sebab dan akibat, berarti pengingkaran akan hikmah-hikmah yang terdapat dalam segala yang maujud di alam ini.
4.      Hubungan Sebab Akibat dengan Mukjizat
Menurut pendapat al-Ghazali pengakuan akan adanya hubungan keniscayaan antara sebab akibat (kausalitas) akan mengakibatkan orang tidak percaya terhadap adanya mukjizat Nabi.
Sehubung dengan itu, Ibnu Rusyd membedakan antara dua mukjizat yaitu al-Barraniy dan al-Jawwaniy. al-Barraniy ialah mukjizat yang diberikan kepada seorang Nabi, tetapi tidak sesuai risalah kenabian, seperti tongkat Nabi Musa a.s., yang menjadi ular. Mukjizat ini saat itu dipandang sebagai perbuatan di luar kebiasaan dan boleh jadi satu waktu akan diungkapkan oleh ilmu pengetahuan. Sedangkan, mukjizat al-Jawwamiy ialah mukjizat yang diberikan kepada seorang Nabi sesuai dengan risalah kenabiannya, seperti Al-Qur’an bagi Rasulullah S.a.w., mukjizat ini dipandang sebagai mukjizat yang sesungguhnya, karena mukjizat ini tidak akan dapat diungkapkan dengan ilmu pengetahuan dimana pun dan kapan pun.
E.     Problem Filsafat Ibnu Rusyd
1.      Pengetahuan Tuhan terhadap Soal-soal Juziyat
Di dalam filsafat Ibnu Rusyd terdapat pertanyaan: Apakah Tuhan mengetahuisegala rincian juziyat? Aristoteles berpendapat bahwa Tuhan tidaklah mengetahui soal-soal juziyat. Halnya sama seperti seorang kepala negara yang tidak mengetahui soaa-soal kecil di daerahnya. Pendapat Aristoteles ini didasarkan atas argumen: yang menggerakkan itu, yakni Tuhan al-Mukharrik, merupakan akal yang murni bahkan merupakan akal yang setinggi-tinginya. Untuk itu akal yang tertinggi haruslah merupakan pengetahuan yang tertinggi pula agar ada persesuaian antara yang mengetahui dan diketahui. Tidak ada suatu zat lain yang sama luhurnya dengan zat Tuhan. Sesuatu yang diketahui Tuhan menjadi sebab untuk adanya pengetahuan Tuhan. Aristoteles menggambarkan sebagai kehidupan yang badai, sempurna dari segala segi, dan sudah puas dengan kesempurnaan zat-Nya sendiri.
Argumen Aristoteles oleh Ibnu Sina disetujui, tetapi di bantah keras oleh Al-Ghazali. Sekarang datang Ibnu Rusyd yang membela pendapat Aristoteles dan Ibnu Sina ini dan menentang serangan-serangan Al-Ghazali terhadap kaum filsafat itu. Dalam pembelaanya itu Ibnu Rusyd mengatakan bahwa mereka yang mendakwa ahli-ahli filsafat yang memungkiri pengetahuan terhadap juziyat itu disebabkan karena mereka tidak dapat memahami maksud ahli-ahli filsafat. Padahal maksud ahli-ahli filsafat itu ialah pengetahuan Tuhan kepada juziyat sebagaimana pengetahuan yang dicapai oleh orang-orang biasa.
Disini terlihat perbedaan besar antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Al-Ghazali bermaksud mempertahankan kemurnian agama, sedangkan Ibnu Rusyd bermaksud mengadakan kompromi antara filsafat dan agama yang sepintas saling berlawanan satu sama lain.
2.      Terjadinya Alam Maujudat dan Perbuatannya
Bagaimana terjadinya alam manjudat ini dan amal perbuatannya? Bagi golongan agama jawabannya sudah jelas. Mereka mengatakan semua itu adalah ciptaan Tuhan. Semua benda maupun peristiwa, baik besar maupun kecil, Tuhanlah yang menciptakan dan memelihara, setiap saat tah pernah lupa dan tak pernah lalai. Sebaliknya bagi golongan filsafat menjawab persoalan itu harus ditinjau dengan akal pikiran. Diantara mereka ada yang menyimpulkan bahwa materi itu menjadi benda-benda lain yang beraneka ragam terdapat di dalam kekuatan itu sendiri secara otomatis. Artinya tidak langsung dari Tuhan. Diantara ahli filsafat ada yang berpendapat bahwa materi itu kekal. Materi terjadinya bukan dari tidak ada, melainkan dari keadaan yang potensial.
Aristoteles sendiri berpendapat bahwa substansi pertama dari materi itu menyebabkan adanya substansi yang kedua tanpa berhajat bantuan zat lain di luar dirinya. Ini berarti sebab dan akibat penciptaan amal dann materi itu seterusnya terletak pada diri materi itu sendiri.
Ibnu Rusyd dapat menerima pendapat Aristoteles ini dengan menjelaskan argumennya: Seandainya Tuhan itu menjadikan segala sesuatu dan peristiwa yang ada ini, maka akibatnya ide tentang sebab dan akibat itu akan tidak ada artinya lain. Padahal, seperti yang kita lihat sehari-hari, apapun yang terjadi senantiasa diliputi oleh hukum sebab dan akibat. Misalnya api yang menyebabkan terbakar, dan air yang menyebabkan basah.

3.      Keazalian dan Keabadian Alam
Apakah alam ini ada permulaan terjadinya atau tidak? Dalam hal in Ibnu Rusyd mengemukakan bahwa alam ini azali tanpa permulaan. Dengan demikian berarti bahwa bagi Ibnu Rusyd ada dua hal yang azali, yaitu Tuhan dan alam. Hanya keazalian itu berbeda dari keazalian alam, sebab keazalian lebih utama dari keazalian alam. Untuk membela pendapat ia mengeluarkan argumen: Seandainya alam ini tidak azali, ada permulaannya maka ia hadits, mesti ada yang menjadikannya, dan yang menjadikannya itu harus ada pula yang menjadikannya lagi. Jadi mustahil kalau alam itu hadits. Oleh karena diantara Tuhan dengan alam ini ada hubungan meskipun tidak sampai pada soal-soal rincian, padahal Tuhan azali dan Tuhan yang azali itu akan berhubungan kecuali dengan yang azali pula, maka seharusnya alam ini azali meskipun keazaliannya kurang utama daripada keazalian Tuhan.
4.      Gerak dan Keazaliannya
Gerakan adalah suatu akibat karena setiap gerakan senantiasa mempunyai sebab yang mendahuluinya. Kalau kita cari sebab itu, maka tidak akan kita temui sebab penggeraknya pula. Begitulah seterusnya, tidak mungkin berhenti. Oleh sebab itu, kewajiban kita menganggap bahwa sebab yang paling terdahulu atau sebab yang pertama adalah sesuatu yang tidak bergerak. Gerakan itu dianggap tiada berawal dan tiada berakhir, azal dan abad, dan sebab pertama atau penggerak pertama itulah yang disebut Tuhan.
Ibnu Rusyd mengatakan bahwa meskipun Tuhan adalah sebab atau penggerak yang pertama, Dia hanyalah menciptakan gerakan pada akal yanng pertama saja, sedangkan gerakan-gerakannya selanjutnya disebabkan oleh akal-akal selanjutnya.
Menurut Ibnu Rusyd, tidak dapat dikatakan adanya pimpinan langsung dari Tuhan terhadap peristiwa-peristiwa di dunia.
5.      Akal yang Universal dan Satu
Ibnu Rusyd dalam hal ini bertindak lebih  radikal lagi aripada ahli-ahli filsafat sebelumnya (Plato, Aristoteles, Al-Farabi, dan Ibnu Sina). Menurut Ibnu Rusyd akal itu adalah suatu satu universal. Maksudnya buka saja “akal yang aktif” (active intelect, al-aqual fa’al) adalah Esa dan Universal, tetapi juga “akal kemungkinan”, yakni akal reseptif (al-aqlu vil-quwwah), adalah Esa dan universal, sama dan satu bagi semua orang.
Hak ini berarti bahwa segala akal dianggap sebagai monopsikisme. Menurut Ibnu Rusyd “akal kemungkinan” barulah merupakan individu tertentu (diindiridualkan) atau di takhsiskan tatkala dia berhubungan dengan suatu bentuk materi artau tubuh orang perseorangan. Dan apabila seseorang meninggal dunia maka akal kemungkinan pun sudah tidak ada lagi. Dengan kata lain, akala kepunyaan orang perseorangan tidak mempunyai keabadian, tetapi akal yang abadi itu akal yang univesal, yakni asal sumber an tempat kembalinya akal kemungkinan manusia individual.
Pengakuan Ibnu Rusyd tentang akal yang bersatu, sebab akal adalah mahkota terpenting dari wujud roh manusia. Daengan kata lain akal itu hanyalah sebagai wujud rohani yang membedakan jiwa manusaia atau mengutamakannya lebih dari jiwa hewan dan tumbuh-tumbuhan. Maksud Ibnu Rusyd, roh universal itu adalah satu dan abadi.
F.     Tinjauan Metafisika Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd telah membahas tentang wujud Tuhan, sifat-sifatnya dan hubungan Tuhan dengan alam. Ini merupakan tiga pokok pembahasan metafisika Ibnu Rusyd.disamping itu Ibnu Rusyd meneliti berbagai golongan Islam dalam mencari Tuhan. Golongan tersebut terdiri dari Asy’ariyah, Mutazilah, Batiniah, dan Hasywiah : masing-masing golongan tersebut memiliki pandangan tersendiri tentang Tuhan. Disamping itu Ibnu Rusyd meninjau pemikiran Al-Ghazali.
Tentang Al-Ghazali, maka menurut Ibnu Rusyd, ia telah mengisi bukunya Tahafut al-Falasifah dengan pikiran-pikiran sofistis, dan kata-katanya tidak sampai kepada tingkat keyakinan serta tidak mencerminkan hasil pemahamannya terhadap filsafat itu sendiri. Pembicaraan Al-Ghazali terhadap pikiran-pikiran filosof-filosof dengan cara demikian, tidak pantas baginya, sebab tidak lepas dari satu dan dua hal. Pertama, ia sebenarnya memahami pikiran-pikiran tersaebut, tetapi tidak disebutkan disini secara benar-benar dan ini adalah perbuatan orang-orang buruk. Kedua, ia memang tidak memahami benar-benar, dan demikian ia membicarakan sesuatu yang tidak dikuasainya, dan ini adalah perbuatan orang-orang bodoh.
Menurut Ibbnu Rusyd, kedua kemungkinan tersebut sebenarnya tidak terdapat pada Al-Ghazali. Akan tetapi “kedua balap kadang-kadang terantuk” demikian kata pepatah. Dana bagi Al-Ghazali, terantuknya itu ialah karena ia menulis buku Tahafutnya tersebut. Boleh jadi penulisannya dilakukannya karena melayani selera masa dan lingkungannya.
Golongan Asy’ariah mengatakan bahwa kepercayaan tentang wujud Tuhan tidak lain adalah melalui akal. Menurut Ibnu Rusyd, untuk ini mereka tidak menempuh jalan yang ditunjukkan oleh syara’ karena berdasarkan baharunya alam atas tersusunnya dari bagian-bagian yan tidak terbagi-bagi itu adalah baru.
Golongan Mutakallimin Asy’ariah mengatakan bahwa perbuatan yang baru adalah karena kehendak yang qadim. Maka Ibnu Rusyd menjawab bahwa perkataan tersebut tidak dapat diterima, karena iradah itu bukan perbuatan yang brhubungan dengan perkara yang dibuat. Dengan demikian, maka jalan yang ditempuh oleh golongan Asy’ariah tentang barunya alam tidak dapat dipahami orang-orang awam., tetapi juga tidak memuaskan bagi golongan filosof, karena jalan tersebut bersifat jadali bukan burhani. Dengan kata lain, jalan tersebut tidak teoretis burhani, bukan pula jalan dari syara yang meyakinkan. Jalan-jalan dari syara apabila diteliti, maka mengandung dua syarat, yaitu meyakinkan dan bersahaja tidak tersusun, yakni tidak banyak dasar-dasar pikirannya yang dengan sendirinya juga kesimpulannya bersahaja pula.
Mengenai Mutazillah, maka Ibnu Rusyd, sebagaimana yang diakuinya sendiri, tidak mengetahui metode-metodenya, karena kitab-kitab dari golongan-golongan itu yang ampai di Mu’tazilah tidak ada. Tampaknya metode mereka tidak berbeda dengan metode Asy’ariah.
Golongan Hasywiah berpendirian bahwa jalan mengetahui Tuhan ialah sama’ bukan akal. Iman bagi mereka adalah mendengarkan apa yang dikatakan oleh syara’ tanpa mengusahakan syara’. Mereka jelas tidak emmenuhi maksud Syara’ yang mengajak untuk mempercayai wujud Tuhan melalui dalil-dalil pikiran.
Mengenai golongan Tasawuf, maka menuut Ibnu Rusyd cara penelitian mereka bukan bersifat pikiran, yakni terdiri dari dasar-dasar pikiran atau premisse-premissen dan kesimpulan, karena merek mengira bahwa pengetahuan tentang Tuhan dan wujud-wujud lain diterima oleh jiwa ketika sudah terlepas dari hambatan-hambatan kebendaan dan ketika pikirannya tertentu kepada perkara yang dicarinya. Cara tersebut menurut Ibnu Rusyd yaitu sebagai makhluk yang mempunyai pikiran dan diserukan memakai pemikirannya. Selain itu, jalan tersebut menyalahi syara’ yang menyerukan pemakaian pikiran.
Mengenai adanya Tuhan, Ibnu Rusyd mengemukakan bahwa ada dua cara untuk membuktikannya, yaitu : kedua cara ini dimulai dari manusia dan tidak dari alam, karena manusia itu yang berpikiran. Dengan penelitian dan menyingkapan rahasia-rahsia alam oleh akal,maka dalil Alquran maemperkuat adanya Tuhan.
Kata Ibnu Rusyd barang siapa yang hendak mengetahui Tuhan yang sebenarnya harusalah mengadakan teori tentang benda-benda wujud. Seterusnya benda wujud dijadikan dan segala benda yang dijadikan berkehendak kepada yang menjadikan.   Pembahasan filsafat Ibnu Rusyd sangat banyak dan luas sekali kebenaran pembahasan filsafatnya tadi dapat dilihat dalam beberapa cabang filsafat yang telah menjadi pemikirannya. Karen aitulah pemikiran banayak dikenal da dikagumi baik diluar maupun sesama filosof Islam.
G.    Kritik Ibnu Rusyd terhadap Emanasionisme Para Filosof Muslim
Ibnu Rusyd menolak secara tegas emanasionisme yang dikemukakan para filosof Muslim sebelumnya. Dalan kritikannya ia mengemukakan beberapa kelemahan, kesulitan, dan pertentangan yang terdapat dalam Neoplatonisme tersebut sebagai berikut:
Pertama, bahwa dari al-Fa’il al-awwal (penciptaan pertama) hanya memancar satu, bertentangan dengan pendapatnya sendiri, bahwa yang memancar dari yang satu pertama terdapat padanya yang banyak, padahal dari yang satu mesti memancar satu. Pendapat ini diterima oleh Ibnu Rusyd, karena yang banyak terdapat pada akibat yang pertama (al-Maf’ul al-Awwal) dan masing-masing yang banyak itu adalah yang pertama. Akan tetapi, hal ini tidak mungkin karena memaksanya untuk mengatakan bahwa yang pertama itu adalah yang banyak.
Kedua, akibat kurang telitinya al-Farabi dan Ibnu Sina, maka pendapat ini telah diikuti orang banyak, kemudian mereka menisbatkannya kepada para filosof, dalam hal ini Aristoteles, padahal mereka tidak berpendapat demikian. Lebih lanjut Ibnu Rusyd mengatakan bahwa pendapat ini merupakan khayalan dan keyakinan yang jauh lebih lemah daripada keyakinan teolog Muslim, dan ia tidak sejalan dengan prinsip-prinsip para filosof Muslim, bahkan tidak dapat memberikan kepuasan bagi kaum khitabi (awam) sekalipun.
Ketiga, menurut Ibnu Rusyd prinsip-prinsip (al-Mabadi’) yang memancar dari prinsip lain sebagai dikemukakan, merupakan sesuatu yang tidak dikenal oleh filosof-filosof terdahulu. Karena yang mereka maksud bahwa prinsip-prinsip itu mempunyai maqamat tertentu dari prinsip yang pertama, dimana wujud prinsip-prinsip itu tidak sempurna tanpa maqam tersebut. Korelasi antara prinsip-prinsip ini menghendaki adanya akibat (ma’lulat) sesamanya, dari prinsip yang pertama.
H.    Corak Pemikran Ibnu Rusyd
Ajaran Ibnu Rusyd yang terkenal di Eropa yang disebut Averroism berpangkalan kepada pikiran merdeka dan yang ditolak secara keras sekali oleh dunia Kristen Eropa, telah mempengaruhi seluruh universitas Eropa untuk berabad-abad lamanya, sehingga menimbulka zaman Renaissance dibenua Eropa. Menurut Roger Bacon sesudah Avicenna tampillah Averroes, seorang sarjana yang membawa doktrinnya yang padat berisi, yang telah mengoreksi pendapat-pendapat para filosof yang mendahuluinya dan sahamnya dalam hal ini adalah besar. Filsafat Averroes lama diabadikan orang, ditolak dan diulang pembuktiannya oleh banyak sarjana yang besar-besar, sekarang memang dalam mencapai pengakuan dengan suara bulat dari manusia-manusia yang bijaksana. 
Ibnu Rusyd terkenal sebagai “pengulas Aristoteles” (Comentator), suatu gelar yang diberikan oleh Dante(1265-1321) dalam bukunya Divina Commedia (komedi ketuhanan). Gelar ini memang tepat untuknya karena pikiran-pikirannya mencerminkan usahanya yang keras untuk mengembalikan pikitran-pikiran Aristoteles kepada kemurniannya yang semula, setelah bercampur dengan unsur-unsur Platonisme yang cukup memburukkan dan yang dimasukkan oleh pengulas-penguas (filosof-filosof) Iskandariah. Pada diri Ibnu Rusyd, dunia Islam mencapai titik tertinggi dalam memahami filsafat Aristoteles, untuk kemudian menurun dan melenyap sesudah itu.
Ibnu Rusyd memandang Aristoteles sebagai manusia sempurna dan ahli pikir terbesar yang telah mencapai kebenaran yang tidak mungkin bercampur kesalahan. Ibnu Rusyd selama hidupnya berkeyakinan bahwa filsafat Aristoteles apabila dipahami sebaik-baiknya, maka tidak akan berlawanan dengan pengetahuan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia, bahkan perkembangan manusia telah mencapai tingakat yang tertinggi pada diri Aristoteles sehingga tidak ada orang yang melebihinya.
Keberatan dan keragu-raguan terhadap Aristoteles sedikit demi sedikit hilang, karena ia adalah manusia luar biasa. Seolah-olah ilham Tuhan menghendaki agar Aristoteles menjadi teladan bagi otak manusia yang tertinggi dan adanya kesanggupan manusia untuk mendekati otak universal, sehingga Ibnu Rusyd lebih suka menambahnya “Filosof Ketuhanan” (al-failasuf al-Ilahi). Kekaguman Ibnu Rusyd terhadap filosof itu kita dapati dalam pendahuluan bukunya at-Thabi’ah (fisika) dan dalam beberapa tempat dari Tahafut at-Tahafut.
Karena Ibnu Rusyd tidak mengerti bahasa Yunani, maka dalam mempelajari pikiran-pikiran Aristoteles, ia memakai terjemahan buku-buku Aristoteles asli dan terjemahan ulasan-ulasannya. Ia berusaha keras untuk menjelaskan pikiran-pikiran Aristoteles yang masih gelap dan memperbandingkannya satu sama lain.
Hal ini dapat dipahami kalau ingat bahwa terjemahan-terjemahannya yang dipakainya itu tidak sanggup menyatakan dengan teliti terhadap pikiran-pikiran Aristoteles yang terdapat dalam bahasa Yunani, terutama pikiran-pikirannya yang baik, yang hingga sekarang masih diperselisihkan penafsirannya dikalangan pengulan Aristoteles. Bagaimanapun, Rusyd bukan hanya sekedar pengulas, melainkan ia juga seorang filosof yang mempunyai kepribadian sendiri dan kebebasan berpikir. Sesuai dengan ciri akal manusia pada umumnya.
Ketika mula-mula memasuki lapangan filsafat, ia tidak bermaksud untuk membentuk suatu aliran filsafat tersendiri, karena kekagumannya terhadap Aristoteles demikian besarnya, sehingga dianggapnya sebagai contoh kesempurnaa, dan berpendirian bahwa setiap usaha ke arah m\pembentukan suatu aliran filsafat sesudahnya tidak berguna, karena setiap orang yang mengusahakan demikian, selalu mengalami kegagalan, disebabkan karena hanya Aristoteles semata-semata yang terpilih oleh Tuhan unutuk memiliki filsafat. Tapi kenyataan yang terjadi berbalik dan disebabkan dua hal. Pertama, filsafat Aristoteles yang datang kepadanya adalah melalui aliran Neo-Platonisme dan filosof-filosof Iskandariah. Kedua, banyak pikiran-pikiran Aristoteles yang masih belum jelas dan berbelit-belit pula cara memahaminya. Dua sebab inilah yang menyebabkan Ibnu Rusyd mempunyai aliran filsafatnya sendiri.